another support caturstudio’s weblog
Film Pendek, Sejuta Serunya!
Bikin film pendek bukan hal yang sulit. Apalagi semua teman-teman kita sudah banyak yang pernah membuatnya. Tertarik mencoba? Boleh banget!
Di mana pun dan dalam situasi apa pun kita bisa membuat film pendek. Enggak perlu cari cerita yang bombastis. Kejadian sehari-hari dalam kehidupan kita saja bisa dijadikan sumber film pendek. Misalnya nih, saat acara ulang tahun, acara ngumpul bareng di rumah atau saat beramai-ramai liburan ke satu tempat hiburan.
Untuk membuat film pendek pun tidak perlu biaya mahal-mahal. Paling kita harus membeli kaset kosong yang harganya sekitar Rp 75.000, lalu untuk biaya riset lapangan kalau tempatnya jauh dan butuh biaya. Namun, riset ini bisa juga sama sekali enggak mengeluarkan biaya dan, yang terakhir, adalah biaya untuk editing. Ini mungkin sedikit mahal, sekitar 1 juta. Harga satu tempat dengan tempat yang lain bervariasi sih.
Saat membuat film pendek, yang pertama kali harus kita pikirkan adalah cerita. Kita harus menentukan fokus cerita dari film kita. Misalnya pas pesta ulang tahun. Maka, fokus ceritanya adalah pesta ulang tahun. Atau saat pergi ke tempat hiburan, fokus ceritanya ya tempat hiburan itu, misalnya, Suatu Hari di Dunia Fantasi….
Setelah kita tentukan fokus cerita, tinggal ikuti langkah-langkah ini!
1. Riset Awal!
Kita cari tahu dulu tentang latar belakang yang ingin kita buat film. Kalau serius, riset ini harusnya sangat detail, tetapi kalau mau sederhana, kita bisa saja browsing dulu di internet atau bertanya kepada teman atau orang yang sudah mengalaminya. Kita catat data-data yang kita dapat tadi.
2. Siapkan Peralatan
Perlengkapan yang diperlukan adalah handycam atau kamera video apa pun beserta baterai dan charger. Jangan lupa bawa juga mikrofon tambahan dan kabel ekstensinya, tripod, dan yang paling penting, kaset-kaset kosong (bawa cadangan ya).
3. Riset Lapangan
Waktu sampai di tempat tujuan, kita harus melakukan riset lebih dalam dari riset awal yang sudah kita lakukan di rumah. Cocokkan data yang didapat saat riset awal dengan keadaan di lapangan.
Bagaimana caranya? Ya jalan, ngobrol, dan nongkrong! Santai dan berusaha akrab dengan lingkungan yang akan kita filmkan.
4. Buat Alur Cerita Kasar
Tentukan siapa saja yang mau diangkat sebagai tokoh dalam film. Biasanya, dari hasil riset di lapangan, kita bisa mendapatkan sebuah ide yang lebih spesifik dan menarik untuk diangkat dari ide awal kita di rumah. Misalnya, “Keseharian hidup badut di Dufan”. Kemudian, buatlah alur cerita kasar dari ide tersebut. Misalnya, tugas-tugas si badut di Dufan dan tempat-tempat wajib yang harus didatangi si badut.
5. Buatlah Sinopsis
Cerita singkat tentang seperti apa film yang kita buat ini. Dari sinopsis kita bisa menentukan siapa saja yang harus kita wawancara, daftar pertanyaan untuk setiap wawancara, dan daftar gambar-gambar (footage) yang dibutuhkan di luar wawancara.
6. Syuting atau Pengambilan Gambar
Dari hasil riset, kita sudah tahu di mana saja dan kapan saja orang-orang yang ingin kita wawancara berada. Ada beberapa hal yang mesti diperhatikan untuk pengambilan gambar. Yang pertama, datangi dan minta izin mereka untuk melakukan wawancara. Ingat, jangan sekali-kali merekam wawancara tanpa izin! Tidak etis dan bisa bikin mereka tidak suka.
Kedua, jangan lupa menggunakan mikrofon tambahan ketika melakukan wawancara, apalagi kalau kita berada di tengah keramaian. Ketiga, gunakan daftar pertanyaan yang sudah dibuat sebelumnya sebagai acuan, tetapi jangan terlalu kaku, kita boleh bertanya hal-hal lain di luar daftar tersebut.
Keempat, buat suasana wawancara sesantai mungkin, bertanyalah seperti kita sedang mengobrol biasa. Sebab, keberadaan kamera video bisa membuat orang gugup, jaim, dan tidak bisa menjawab jujur.
Kelima, gunakan tripod bila wawancara berlangsung cukup lama dan tidak dilakukan sambil bergerak. Keenam, Selesaikan semua wawancara dari daftar orang yang sudah kita buat. Setelah itu rekam semua gambar yang sudah kita tulis dalam daftar footage kita. Kalau kita masih punya waktu dan kaset cadangan, kita boleh kok merekam gambar-gambar tambahan lain yang mungkin nanti bisa berguna saat tahap editing.
Ketujuh, setelah semua selesai direkam. Periksa lagi semua daftar yang kita punya. Baca lagi sinopsis awal kita. Apa semua sudah cukup. Jangan sampai ada yang terlupa.
7. Buat Alur Cerita Final
Sesuaikan hasil catatan dengan hasil wawancara yang sudah kita buat. Masih sesuaikah? Harus diubahkah? Ke arah mana harus dikembangkan?
Hal ini sangat mungkin terjadi karena hasil wawancara bisa banget menghasilkan data-data yang lebih banyak dan mungkin berbeda dari apa yang sudah kita siapkan sebelumnya. Enggak masalah kok. Perbaiki dan buat sinopsis baru yang bisa disusun dari hasil rekaman yang sudah kita tonton berulang kali.
Setelah selesai, barulah sinopsis final ini bisa jadi panduan untuk mulai mengedit.
8. Mengedit Film
Mulai capture hasil rekaman yang sudah kita pilih sebelumnya ke dalam komputer menggunakan program editing yang biasa kita pakai. Setelah itu susun film kita berdasarkan sinopsis final yang sudah kita buat sebelumnya.
Masukkan footage-footage yang kita sudah rekam. Buat alur semenarik mungkin, jangan terlalu banyak wawancara yang bisa membosankan. Idealnya, panjang film 8-12 menit.
9. Musik Latar atau “Soundtrack”
Tambahkan musik latar yang sesuai, jangan pakai musik orang sembarangan ya! Sebisa mungkin buat musik sendiri atau minta teman yang pandai membuat musik untuk membuatkan musik untuk film ini.
10. Terakhir, koreksi warna atau “color correction”
Masukkan opening title (pilih judul yang catchy dan bisa menggambarkan keseluruhan film), tambahkan credit title, mixing suara, wrap! Jadikan DVD biar bisa ditonton beramai-ramai.
Teguh Andrianto/ Muti Siahaan Tim Muda
Sumber: Kompas
4 Responses for "10 Langkah Membuat Film Pendek"
Yup! i agree…
bikin short independent movie itu asyik asoy geboy…
mulai dari ide sampai penggarapannya, cuman dibutuhkan 1 modal: tekad yang kuat! haha!
dulu, pas kuliahan, bikin film pendek adalah pengalaman tersendiri yang membawa kepuasan bathin luar biasa, sampai2 salah satu aktor filmku nanya; “iki sakjane critone opo seh?” :))
yeah…untuk sempurna memang butuh ditempa! blajar ga egois, peka sosial, peka nurani dan spiritual…
pasti hasil filmnya: TOP MARKOTOP!
hahah..!
keep creative!
thx tur for showing a nice tour arround here!
thank’s for that bro!!
dengan ini aku bisa mulai membuat foto baru
thank’s
Disini agak membingungkan, ini masuk film pendek apa film dokumenter, untuk membuat film harus di tentukan genrenya dulu. Untuk pembuatan sebuah film ada 3 tahap, yaitu :
1. Pra produksi.
2. Produksi
3. Pasca produksi.
Praproduksi sendiri juga di bagi beberapa tahap…. justru yang paling rumit adalah di pra produksi, ide cerita, pembuatan sinopsis, riset, pembuatan skenario atau screenplay, breakdown, casting, hunting lokasi, persiapan perlengkapan, mulai perlengkapan untuk shooting maupun wardrop.
Bahkan sampai musik dan animasi nantinya sudah ditentukan.
Praproduksi ini berfungsi untuk menekan biaya maupun untuk ketepatan waktu produksi nanti agar sesuai dengan anggaran dan waktu yang ditentukan.
setelah semua siap baru melangkah produksi, dalam produksi ini sudah sesuai jadwal dan lokasi yang telah di tentukan.
Pasca produksi adalah proses editing, proses editing ini tinggal memasukan saund effect yg telah dibuat, sebab ketika kita produksi shooting…, bagian musik dan pembuat sound effect juga mengerjakan sesuai hasil breakdown, begitu juga bagian animasi yang akan menyertai film nanti.
Setelah editing selesai…., kita pertonton kepada teman-teman atau kelompok kecil…, mungkin ada yang jumping atau meloncat, atau adegan-adegan yang kurang pas yang mungkin dapat merusak dari film. misalnya kita membuat adegan jaman 60-an…., tetapi pemain memakai jam digital atau telpon yang sudah modern.
Kalau semua sudah OK.., kita tinggal cari tempat untuk memutar…, mungkin di cafe atau gedung bioskop…atau di televisi.
aRrrrGhhh!!!!!!!!!!!!!
artkel’aa bgus bgddd
Leave a reply