Ditulis oleh: Pak Andri

Gambar MOSMasa orientasi siswa bagi sebagian mantan siswa baru zaman dulu merupakan sesuatu masa yang menakutkan dan paling tidak terlupakan. Berbagai sebutan untuk masa-masa pengenalan sekolah tersebut memunculkan stigma negatif di masyarakat di masa lalu. Bentakan, teriakan, arogansi dan powerfulnya senior, hukuman fisik dan hukuman yang memalukan adalah cap yang diberikan untuk kegiatan bagi siswa baru tersebut.

Tapi, apakah MOS atau sejenisnya sekarang masih seperti dulu? Dengan adanya perubahan sistem pendidikan nasional tentunya harus ada perubahan-perubahan di dalam pelaksanaan MOS. Masa Orientasi Siswa sekarang ini seharusnya lebih mengedepankan penyampaian nilai-nilai luhur dan menyiapkan murid baru agar tidak kaget dengan sistem pendidikan baru yang akan dihadapinya nanti.

MOS diawali dengan upacara pembukaan. Peserta mengenakan seragam lengkap dengan berbagai “aksesoris” yang telah ditetapkan. Mengenai “aksesoris” ini sebagian masyarakat menganggap sesuatu yang tidak mendidik. Tetapi, bila dilihat dari sisi positifnya maka “aksesoris” ini masih diperlukan asalkan dalam taraf wajar, tidak menyalahi etika dan tidak merendahkan martabat peserta sebagai makhluk Tuhan.

Keterlibatan siswa senior yang tergabung dalam OSIS sebagai panitia juga diperlukan untuk melatih mereka berorganisasi khususnya menyelenggarakan suatu kegiatan. Sepak terjang senior inilah yang harus memerlukan pengawasan dan perhatian ekstra dari para guru pembimbing. Kreativitas para senior dituntut untuk menghasilkan suatu tatanan “aksesoris” seragam peserta. Kreativitas dan tanggung jawab peserta pun dilatih untuk dapat menyelesaikan “aksesoris” seragam ini.

Kedisiplinan dapat diajarkan melalui hadirnya peserta tepat waktu di sekolah. Ketertiban dapat dilihat dari tertibnya seragam peserta dan tertibnya mereka menerima materi. Kedisiplinan dan ketertiban ini juga berlaku bagi panitia pendamping dari OSIS. Sesungguhnya dari pengurus OSIS yang tertib dan disiplin inilah dapat memberi contoh positif bagi adik kelasnya.

Metode “reward” dan “punishment” masih perlu dilakukan. Peserta yang melanggar aturan perlu diberikan sanksi yang sesuai. Tentu saja sanksi ini tidak boleh melanggar etika dan bukan dalam bentuk hukuman fisik. Sanksi yang diberikan haruslah berupa sanksi yang mendidik. Sedangkan peserta yang dapat melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik layak untuk mendapat penghargaan.
Pengenalan lingkungan sekolah diberikan dalam bentuk klasikal dan jalan-jalan berkeliling sekolah menjelajah setiap ruang yang ada. Kunjungan ke ruang kelas lain, kantor guru dan kepala sekolah, kantin, perpustakaan, masjid/musholla, laboratorium yang ada serta fasilitas diperlukan agar murid baru tidak kebingungan mencari ruang-ruang tersebut nantinya.

Perkenalan dengan guru dan kakak kelas oleh murid baru dilakukan dengan cara mendapatkan data dan tanda tangan mereka. Ajang inilah yang biasanya dimanfaatkan oleh oknum kakak kelas untuk bertingkah aneh-aneh. Oleh karena itu, pengawasan guru untuk kegiatan yang satu ini mutlak diperlukan.Selain itu, peserta masa orientasi siswa juga diberikan materi-materi lain yang sangat bermanfaat bagi mereka.

Cara belajar efektif, latihan baris berbaris, pengenalan atribut-atribut kebanggaan almamater misalnya hymne dan mars sekolah dan sosialisasi tata tertib adalah materi-materi yang disampaikan kepada murid baru. Dengan berbagai perubahan menuju ke arah yang baik, diharapkan akan mengubah stigma MOS di masyarakat dari negatif menjadi positif. Dan yang paling penting lagi adalah MOS dapat menjadi jembatan bagi para murid baru agar dapat menempuh pendidikan dengan lingkungan baru dengan baik.


Artikel yang berhubungan :
  • REKRUTMEN PEGAWAI PT PLN (PERSERO)
  • Diklat Bersama 25 EkstraKulikuler SMAMDA
  • Implementasi situs web untuk dunia pendidikan
  • Pemodelan Data Warehouse
  • Kemudahan berbagi pulsa dengan Indosat Transfer Pulsa Baru